Jumat, 08 Maret 2013

SISTEM SARAF


Salah satu sifat makhluk hidup adalah irritabilitas, yaitu kemampuannya untuk merespon stimuli (yang biasanya merupakan suatu perubahan lingkungan). Pada hewan, respon terhadap stimuli melibatkan tiga proses:
1.      Menerima stimulus
2.      Menghantarkan impuls
3.      Respon oleh efektor
Semua kelompok hewan yang derajatnya di atas bunga karang (sponges) memiliki bentuk sistem syaraf, meskipun pada beberapa kelompok hewan sistem syarafnya sangat primitif. Pada tentakel beberapa coelenterata, ditemukan suatu tipe jalur syaraf yang mungkin paling sederhana, yang terdiri dari satu susunan dua sel khusus, yaitu satu sel reseptor konduktor dan satu sel efektor. Jalur yang demikian memungkinkan gerakan yang kurang fleksibel, sebab tidak ada jalur alternatif impuls untuk menyebar, dan ketiadaan interkoneksi antara jalur ini dengan bagian sistem saraf lain. Kebanyakan jalur saraf (dan bahkan pada Coelenterata) paling tidak terdiri atas tiga sel berbeda : sel reseptor yang khusus menerima stimulus, sel konduktor yang khusus mengkonduksikan impuls jarak jauh, dan sel efektor (sering merupakan sel otot) yang khusus memberika reseptor. Jalur yang lebih kompleks mungkin melibatkan sejumlah sel konduktor tambahan yang terletak antara reseptor dan efektor. Bila suatu jalur memiliki beberapa konduktor, maka respon dapat lebih fleksibel, sebab lebih dari satu jalur dapat dilalui impuls yang datang melalui reseptor, sehingga satu atau lebih efektor dapat diaktifkan. Secara umum semakin banyak sel-sel konduktor pada suatu jalur, maka respon dapat lebih fleksibel. 
Struktur dan Macam Sel Saraf (Neuron)
Suatu sel saraf (neuron), terdiri atas :
1.      Badan sel, yaitu bagian sel saraf yang membesar dan mengandung inti
2.      Satu atau lebih tonjolan (cabang) yang keluar dari badan sel yang dibedakan menjadi dendrit(tonjolan yang membawa impuls ke badan sel) dan akson (tonjolan yang membawa impuls dari badan sel)
Berdasarkan fungsinya sel saraf yang membawa impuls dari reseptor disebut sel saraf sensori; yang membawa impuls ke efektor disebut sel saraf motor, dan sel saraf yang menghubungkan sel saraf sensori dan sel saraf motor disebut sel saraf interneuron(sel saraf penghubung)
Suatu persambungan antara dua neuron disebut sinaps. Kedua ujung neuron itu biasanya tidak melekat langsung satu dengan yang lain tetapi masih dipisahkan oleh suatu celah sempit, yang disebut sebagai celah sinaps. Neuron yang terletak sebelum sinaps disebut neuron prasinaps, dan neuron setelah sinaps disebut neuron pasca sinaps.
Sistem Saraf Pada Invertebrata
1.      Sistem saraf pada hewan simetri radial
Organisasi sistem saraf paling sederhana dijumpai pada Hydra (suatu Coelenterata), yang terdiri atas sel-sel reseptor-konduktor, dan sel-sel efektor. Sel-sel konduktor tidak membentuk jalur tunggal, tetapi saling terjalin membentuk suatu jala saraf yang menyebar ke seluruh tubuh. Organisasi sistem saraf demikian disebut sistem saraf jala atau sistem saraf difus. Pada sistem saraf jala demikian , belum ada pusat pengontrol. Impuls menyebar ke seluruh arah melalui sebagian besar serabut (beberapa serabut hanya satu arah). Impuls menyebar secara lambat dari daerah yang mendapat rangsang ke daerah yang berdekatan. Makin kuat stimulus, penyebaran impuls makin jauh. Reaksi sangat terbatas pada kontraksi lokal. Suatu sistem seperti ini, yang tidak ada koordinasi terhadap reaksi kompleks, hanya menghasilkan suatu gerakan yang terbatas.
2.      Sistem saraf pada hewan simetri bilateral
Kecenderungan utama pada evolusi system saraf pada hewan simetri bilateral dapat dilihat pada cacing pipih:
1.      System saraf menjadi lebih tersentralisasi oleh terbentuknya korda saraf longitudinal utama. Korda sebagai system saraf pusat dilalui oleh sebagian besar jalur antara reseptor dan efektor, dan sebagian besar badan sel saraf berada dalam korda atau berdekatan dengan korda.
2.      Konduksi impuls saraf menjadi terbatas pada satu arah saja; serabut saraf sensoris hanya mengkondusikan impuls menuju ke system saraf pusat (serabut aferen), dari serabut motor mengkondusikan impuls meninggalkan system saraf pusat (serabut eferen).
3.      Lintasan saraf di dalam system saraf pusat menjadi sangat kompleks dengan adanya saraf penghubung (interneuron) yang sangat banyak; suatu perkembangan yang meningkatkan fleksibilitas respon)
4.      Peningkatan perkembangan ujung depan dari korda longitudinal mengarah pada terbentuknya otak yang menjadi makin dominan
5.      Jumlah dan kekompleksan organ-organ sensori menjadi meningkat.
Kecenderungan ini belum nampak jelas pada kebanyakan cacing pipih primitive, cacing pipih semacam ini hanya memiliki saraf jala yang sangat mirip pada Hydra. Pada cacing yang agak maju, sudah nampak adanya permulaan kondensasi dari korda longitudinal utama dalam jala sarafnya, namun jumlahnya masih banyak, umumnya sekitar 8 korda longitudinal yang tersebar didaerah ventral, dorsal, dan lateral tubuhnya. Pada cacing yang sudah agak maju lagi, telah menunjukkan adanya reduksi jumlah korda longitudinal, dan yang sangat maju tinggal memiliki dua saja, yang keduanya terletak didaerah ventral tubuhnya. Pada cacing pipih dengan perkembangan korda longitudinal yang sangat primitive, belum menunjukkan adanya struktur yang disebut otak.
Pada Annelida dan Arthropoda sudah terlihat adanya perkembangan system saraf pusat yang lebih maju, yang berupa sepasang korda longitudinal pada daerah ventral tubuhnya. Dalam korda longitudinal hewan ini, badan-badan sel saraf membentuk massa yang disebut gangn-badan sel saraf membentuk massa yang disebut ganglion, sepasang setiap segmen, yang dihubungkan oleh berkas serabut yang berjalan longitudinal dan horizontal, sehingga memberikan gambaran seperti tangga tali. Ganglia yang terletak dalam kepala disebut sebagai “otak”. Otak ini kecil, namun bila dibandingkan dengan ganglia segmen, nampak lebih besar dan lebih dominan, tetapi terbatas bila dibandingkan dengan otak vertebrata. System saraf pusat (korda spinalis dan otak) pada Vertebrata berbeda dalam berbagai hal dari yang terdapat pada Annelida dan Arthropoda:
1.      Kordada spinalis pada Vertebrata adalah tunggal, terletak dorsalis, dan terbentuk pada embrio sebagai pembuluh dengan lubang sentral kanal, yang terus ada sampai dewasa.
2.      Korda spinalis Vertebrata tidak begitu jelas terorganisasi menjadi suatu rangkaian berbagai ganglia dan traktus penghubung
3.      Meskipun banyak fungsi koordinasi pada vertebrata masih tetap dipegang oleh korda spinalis, namun pada vertebrata telah berkembang baik suatu otak yang jauh lebih dominan daripada “otak” Annelida dan Arthopoda.
Sistem Saraf Pada Vertebrata
Sistem saraf melakukan kontrol terhadap otot, kelenjar, dan organ-organ yang mengontrol seluruh aktivitas fisiologis manusia. Dalam kapasitasnya mengontrol fungsi tubuh, sistem saraf akan menerima masukan dari lingkungan eksternal dan lingkungan internal mengenai keadan tubuh kita, sisten saraf akan menentukan tindakan yang tepat untuk menjaga fungsi tubuh yang normal. Selain sisten saraf, tubuh kita memiliki kontrol lainnya yaitu sistem hormon (sistem endokrin). Sistem saraf melakukan kontrol melalui transmisi impuls, sedangkan sistem endokrin mensekresikan hormon untuk mengontrol aktifitas metabolisme dan aktifitas tubuh lainnya. Kontrol tubuh dengan saraf mengontrol kerja tubuh dengan cepat misalnya alat gerak, sedangkan sistem endokrin mengontrol kerja tubuh yang lambat misalnya mengontrol kadar gula dalam darah.
Sistem syaraf dan sistem endokrin akan membebaskan chemical messenger untuk berinteraksi dengan sel target. Bedanya adalah jarak yang ditempuh chemical messenger pada syaraf pendek pada celah sinaps, sedangkan pada endokrin chemical messenger lebih panjang melalui peredaran darah. Yang kedua adalah sinyal yang membebaskan chemical messenger pada syaraf adalah potensial aksi, sedangkan pada endokrin adalah berbagai sinyal khusus yang mungkin juga adalah potensial aksi. Sistem saraf dan system endokrin secara rumit berhubungan dalam aktifitas control.sistem saraf juga melakukan fungsi control yang penting terhadap sekresi banyak hormom. Hormon juga banyak yang bekerja sebagai neuro modulator untuk merubah keefektifan sinaps.
1.      ORGANISASI SISTEM SARAF
1.      Berdasarkan perbedaan struktur, tempat dan fungsinya sistem saraf diorganisasi menjadi Sistem saraf pusat (Central Nervous System = CNS) yang terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang.
2.      Sistem saraf tepi (Pheriperal Nervous System = PNS) yang terdiri atas serabut-serabut saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan bagian tepi tubuh (reseptor dan efektor). Sistem saraf tepi dibagi menjadi :
1.      Kelompok saraf aferen (membawa ke) membawa informasi ke sistem saraf pusat.
2.      Kelompok saraf eferen (membawa dari) membawa perintah dari sistem saraf pusat ke organ efektor yaitu sel-sel otot atau kelenjar-kelenjar.
Sistem saraf eferen dibagi menjadi:
1.      Sistem saraf somatik yang terdiri dari saraf motorik yang menginervasi otot-otot rangka.
2.      Sistem saraf otonom yang menginervasi otot polos, otot jantung, dan kelenjar-kelenjar. Sistem saraf otonom dibagi lagi menjadi:
1.      Sistem saraf simpatetik
2.      Sistem saraf parasimpatetik
2.      KLASIFIKASI SEL SARAF (NEURON)
1. Berdasarkan fungsinya, sel saraf dibagi menjadi:
1.      Sel saraf aferen (sel saraf sensorik) termasuk sel saraf unipolar yang berfungsi untuk membangkitkan potensial aksi dalam merespon stimulus tertentu. Badan selnya terletak didalam medula spinalis dan sel saraf utamanya terletak didalam sistem sarap tepi.
2.      Sel saraf eferen (sel saraf motorik) terletak terutama dalam sistem saraf tepi. Badan sel saraf eferen berada didalam sistem saraf pusat, dimana terdapat banyak input prasinaptik mengumpul pada badan sel ini untuk mempengaruhi output ke organ efektor.
3.      Sel saraf antarneuron terletak didalam sistem saraf pusat yang memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai pengintegrasi respon perifer ke informasi perifer dan bertanggung jawab meneruskan informasi ke otak.
2.      Berdasarkan strukturnya, sel saraf dibagi menjadi:
1.      Sel Saraf Unipolar sel saraf yang memiliki satu penonjolan yang keluar dari badan sel (biasanya dianggap sebagai akson)
2.      Sel Saraf Bipolar sel saraf yang memiliki dua penonjolan yang keluar dari badan sel (satu dendrit dan satu akson)
3.      Sel Saraf Multipolar sel saraf yang memiliki banyak penonjolan yang keluar dari badan sel (beberapa disebut dendrit dan satu akson) (Tenzer, 1993: 27-28).
Setiap sel saraf terdiri atas 2 bagian utama, yaitu perikarion (badan sel) dan prosesus (dendrit dan akson) :
1.      Badan sel berfungsi untuk menerima impuls stimulus, menterjemahkan dan meneruskan stimulus, memproses dan menyampaikan respon terhadap stimulus, dan sebagai pusat trofik bagi neuron. Badan sel terletak di subtansia kelabu sistem saraf pusat atau dalam ganglion sistem saraf tepi.
2.      Dendrit berfungsi menerima impuls dari lingkungan, epitel sensoris, atau neuron lain dan meneruskannya. Dendrit berada disubstansia putih sistem saraf pusat.
3.      Akson berfungsi untuk menghantarkan imuls ke neuron yang lain, atau menyampaikan respon ke organ efektor. Akson berada disubstansia putih sistem saraf pusat (Tenzer, 1993: 26-27).

Sel-sel Glial dan Pelindung Sistem Saraf Pusat
1.      SEL-SEL GLIAL
Sekitar 90% sel didalam sistem saraf pusat adalah bukan merupakan neuron , tetapi sel-sel glial atau neuroglia. Meskipun jumlahnya besar , namun neuroglia menempati hanya separoh dari volume otak , sebab neuroglia tidak bercabang-cabang seperti pada neuron. Neuroglia tidak menghantarkan implus seperti neuron. Fungsi neuroglia adalah:
1.      Menjaga kelangsungan hidup sistem saraf pusat
2.      Berperan penting sebagai jaringan penunjang sistem saraf pusat
3.      Membantu menunjang neuron secara fisik dan metabolic
Ada 4 jenis utama sel glial :
1.      Astrosit : Mempunyai beberapa fungsi utama :
1.      Sebagai perekat utama dari sistem saraf pusat, yaitu merekatkan neuron-neuron dalam hubungan spasial yang tepat.
2.      Penting dalam perbaikan kerusakan otak dan neuron.
3.      Menunjang neuron secara metabolik.
4.      Menghilangkan pengaruh K+ dari cairan ekstraseluler otak bila potensial aksi tinggi.
2.      Oligodendrosit, membentuk insulasi sarung mielin akson dalam sistem saraf pusat. uatu oligodendrosit memiliki beberapa proyeksi yang memanjang, masing-masing seperti gulungan jeli menyelubungi suatu bagian dari suatu akson saraf penghubung untuk membentuk segmen-segmen mielin.
3.      Sel ependimal, melapisi ruang-ruang dalam sistem saraf pusat (ventrikel dan sentral kanal). Sel ventrikel mampu memproduksi cairan serebrospinal.
4.      Mikroglia, berfungsi sebagai pembersih sistem saraf pusat, sebab mikroglia ini merupakan sel-sel fagositik yang dilepas oleh jaringan saraf pusat. Sel-sel mikroglia dalam keadaan normal bersifat pasif, dan akan menjadi katif bila terjadai infeksi atau luka pada sistem saraf pusat.
Sel-sel glial masih memiliki kemampuan membelah diri, oleh karena itu kebanyakan tumor otak berasal dari sel-sel glial (Gliomas)edangka sel-sel saraf telah kehilangan kemampuanya untuk membelah diri.
Gb. 4 jenis utama sel glial
2.      PELINDUNG SISTEM SARAF
Sistem saraf pusat sangat gampang rusak, sehingga diperlukan perlindungan dari gangguan luar. Ada empat lapis pelindung system saraf pusat, yaitu:
1.      Tulang kepala, merupakan lapisan pelindung paling luar yang berfungsi untuk melindungi otak, dan tulang belakang yang melindungi medulla spinalis (sumsum tulang belakang) dari gangguan mekanis (benturan, tekanan, dsb). 
2.      Meninges, yang berfungsi untuk memberi makanan pada sistem saraf pusat, dan terletak di antara tulang dan jaringan saraf.
Meninges terdiri dari 3 lapis membran, yaitu dura mater, arahnoid mater, dan piamater :
Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
1.      Duramater; terdiri dari dua lapisan, yang terluar bersatu dengan tengkorak sebagai endostium, dan lapisan lain sebagai duramater yang mudah dilepaskan dari tulang kepala. Diantara tulang kepala dengan duramater terdapat rongga epidural.
2.      Arachnoidea mater; disebut demikian karena bentuknya seperti sarang labah-labah. Di dalamnya terdapat cairan yang disebut liquor cerebrospinalis; semacam cairan limfa yang mengisi sela sela membran araknoid. Fungsi selaput arachnoidea adalah sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.
3.      Piamater. Lapisan terdalam yang mempunyai bentuk disesuaikan dengan lipatan-lipatan permukaan otak (Anonim, 2009).
3.      Cairan serebrospinal, yang berfungi sebagai bantalan cair untuk melindungi otak dan sumsum tulang belakang. Fungsi utamanya menyerap guncangan, sehingga melindungi system saraf pusat dari benturan dengan tulang yang melindunginya. Fungsi yang lain adalah memegang peranan dalam pertukaran zat antara cairan tubuh dengan otak. Cairan serebrospiral dibentuk sebagai hasil dari mekanisme transport selektif melalui membran pleksus khoroid. Komposisi cairan serebrospinal berbeda dengan plasma darah, misalnya cairan serebrospinal mengandung K+ rendah dan Na+ lebih tinggi yang membuat suatu lingkungan yang ideal untuk difusi ion kearah konsentrasi rendah.
4.      Penghalang darah otak, yang berfungsi untuk membatasi masuknya zat-zat berbahaya ke dalam jaringan otak yang mudah rusak. Penghalang darah otak merupakan system kapiler darah di dalam otak, melindungi otak melalui mekanisme pertukaran zat antara darah dan cairan interstisial otak secara selektif. Penghalang darah otak terdiri atas faktor anatomi non fisiologis. Dinding kapiler di seluruh tubuh dibentuk dari satu lapis sel dan terdapat lubang atau pori-pori di antara sel-sel penyusun dinding kapiler yang memungkinkan terjadinya pertukaran zat secara bebas antara plasma dengan cairan intertesial.
Rangkaian Neuron

Sistem Saraf Pusat
Sistem Saraf Tepi
Merupakan sistem saraf yang menghubungkan semua bagian tubuh dengan sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf somatik (sistem saraf sadar) dan sistem saraf otonom (sistem saraf tidak sadar).
1.      Sistem saraf sadar/somatik
Merupakan system saraf yang kerjanya berlangsung secara sadar/diperintah oleh otak. Bedakan menjadi dua yaitu :
a.      Saraf-saraf kepala (Cranial nerves)
T erdiri dari 12 pasang saraf cranial.
b.      Sistem saraf sumsum spinalis
Merupakan sistem saraf yang berpusat pada medula spinali (sumsum tulang belakang) yang berjumlah 31 pasang saraf yang terbagi sepanjang medula spinalis.
31 pasang saraf medula spinalis yaitu :
Sistem saraf somatik terdiri dari serabut-serabut saraf motorik yang menginervasi otot rangka. Badan sel neuron motorik terletak didalam tanduk ventral korda spinalis, aksonnya langsung menuju ke otot rangka. Neuron motor hanya dapat mengaktifkan otot rangka, tidak dapat menghambat seperti system saraf otonom. Penghambatan hanya dapat dilakukan melalui aktifasi input sinaptik inhibitori ke badan-badan sel dan dendrite dari neuron motor yang menginervasi otot rangka. Sistem Saraf Somatik bertanggung jawab terhadap kendali dari sistem saraf motorik dan sistem saraf sensorik.
Sistem saraf somatik dipandang sebagai control sadar, tetapi banyak aktifitas otot rangka, misalnya yang mengatur postur tubuh dan keseimbangan dikontrol oleh bawah sadar. Misalnya kita dapat menentukan ingin mulai berjalan, tetapi kita tidak sadar pengaruh berbagai kontraksi dan relaksasi otot yang terlibat, sebab gerakan ini dikoordinasi secara tidak sadar oleh pusat bawah sadar.
Jalur saraf untuk gerak sadar terdiri atas rangkaian sebagai berikut:
1.      Reseptor
2.      Saraf sensoris
3.      Traktus naik (suatu saraf penghubung dalam korda spinalis yang menuju otak)
4.      Otak
5.      Traktus turun
6.      Saraf motor
7.      efektor
Fungsi reseptor adalah sebagai pengubah bentuk energy (transducer), yaitu dari energy stimulus menjadi energy bioelektrik.
Prosesnya adalah sebagai berikut: stimulus akan menyebabkan depolarisasi pada membrane sel reseptor, dan apabila depolarisasi ini mencapai potensial ambang, maka pada saraf sensoris akan terjadi impuls untuk dirambatkan.
Reseptor sifatnya spesifik, artinya hanya akan merespon stimulus yang cocok saja. Apabila stimulus yang mengenai reseptor tersebut tidak cocok, maka reseptor tidak akan mengubahnya menjadi energy elektrokimia impuls saraf.

2. Sistem saraf otonom
Berbeda dari sistem saraf somatik yang hanya terdiri atas satu saraf motor, system saraf otonom terdiri atas dua rantai neuron, yaitu neuron praganglionik dan pascaganglionik. Badan sel dari neuron praganglionik terletak dalam system saraf pusat (otak atau korda spinalis). Aksonnya, sebagai serabut proganglionik bersinapsis dengan badan sel neuron kedua yang terletak dalam ganglion di luar system saraf pusat. Akson saraf kedua yang disebut serabut pascaganglionik menginervasi efektor.
Sistem saraf otonom terdiri atas dua macam, yaitu system saraf simpatetik dan system saraf parasimpatetik. Badan-badan sel serabut saraf simpatetik berada dalam korda spinalis daerah toraks dan daerah lumbar, oleh karena itu serabut saraf simpatetik disebut juga serabut saraf thorakolumbar. Pada umumnya serabut saraf praganglionik simpatetik sangat pendek, bersinapsis dengan badan sel saraf pascaganglionik dalam ganglia (rantai ganglion simpatetik) yang terletak di samping kanan dan kiri korda spinalis. Beberapa serabut praganglionik simpatetik melewati rantai ganglion simpatetik tanpa bersinapsis dengannya, namun bersinapsis dengan ganglia kolateral simpatetik yang terletak kir-kira di tengah-tengah antara system saraf pusat dengan efektor, yang kemudian disambung oleh serabut pascaganglionik simpatetik.
Badan sel neuron praganglionik parasimpatetik berada dalam otak dan korda spinalis bagian sacral, oleh karena itu serabut saraf parasimpatetik disebut juga sebagai serabut saraf kraniosakral. Serabut saraf praganglionik parasimpatetik lebih panjang daripada serabut saraf praganglionik simpatetik. Ganglionnya disebut terminal ganglion yang terletak dekat atau pada organ efektor, sehingga serabut pascaganglioniknya sangat pendek. Serabut praganglionik simpatetik maupun parasimpatetik membebaskan neurotransmiter yang sama, yaitu asetilkolin (ACh), serabut demikian disebut serabut Kollnergik, sedangkan serabut pascaganglioniknya membebaskan neurotransmitter yang berbeda. Serabut pasca ganglionik simpatetik membebaskan noradrenalin atau norepineprin (serabut demikian disebut serabut adrenergik), sedangkan serabut pascaganglionik parasimpatetik membebaskan asetilkolin.
Sistem saraf otonom mengatur aktivitas organ viseral secara tidak sadar, seperti sirkulasi pencernaan, pernafasan, ekskresi, dsb. Oleh karena itu system saraf otonom ditetapkan sebagai system saraf tidak sadar.
Sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik bersama-sama menginervasi terutama organ viseral. Umumnya sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik memberikan pengaruh yang berlawanan pada suatu organ . misalnya stimulasi simpatetik meningkatkan kecepatan denyut jantng, sebaliknya stimulasi parasimpatetik menurunkannya. Stimulasi simpatetik memperlambat gerak saluran pencernaan makanan, sebaliknya stimulasi parasimpatetik meningkatkannya. Jadi nampak bahwa satu sistem tidak selalu berfungsi meningkatkan dan yang lain menghambat, tetapi yang jelas keduanya bekerja berlawanan pada suatu organ.
Keuntungan kontrol yang berlawanan tersebut adalah memungkinkan mengontrol aktivitas suatu organ secara tepat. Ibarat mengontrol kecepatan mobil yang sedang berjalan, maka kedua sistem saraf otonom berfungsi sebagai gas dan rem. Kalau kecepatan mobil turun, maka gas ditingkatkan, sebaliknya kalau kecepatan mobil melebihi kecepatan yang dikehendaki, maka gas dikurangi dan rem diinjak.

3. Gerak Refleks
Suatu refleks adalah setiap respon yang terjadi secara otomatis tanpa disadari. Terdapat dua macam refleksi :
a.       Refleks sederhana atau refleks dasar, yang menyatu tanpa dipelajari, misalnya refleks menutup mata bila ada benda yang menuju ke mata.
b.      Refleks yang dipelajari, atau refleks yang dikondisikan (conditioned reflex), yang dihasilkan dari belajar.
Rangkaian jalur saraf yang terlibat dalam aktivitas refleks disebut lengkung refleks, yang terdiri atas 5 komponen dasar:
1.      Reseptor
2.      Saraf aferen
3.      Pusat pengintegrasi
4.      Saraf eferen
5.      Efektor
Reseptor merespon stimulus yang merupakan perubahan fisik atau kimia di lingkungan sekitar. Dalam merespon stimulus, reseptor menghasilkan potensial aksi yang akan diteruskan oleh saraf aferen ke pusat pengintegrasi refleks dasar, sedangkan otak yang lebih tinggi memproses refleks yang dipelajari. Pusat pengintegrasi memproses semua informasi dan meneruskannya melalui saraf eferen ke efektor (otot atau kelenjar) yang melaksanakan respon yang diinginkan.
Suatu refleks spinal dasar adalah salah satu refleks yang diintegrasikan oleh sumsum tulang belakang, sebab semua komponen yang diperlukan untuk menyambung input aferen ke respon eferen berada dalam sumsum tulang belakang. Refleks menarik tangan yang tersentuh benda panas merupakan contoh refleks spinal dasar. Energi panas yang diterima reseptor panas pada jari diubah menjadi potensial aksi yang merambat melalui system saraf ke sumsum tulang belakang. Dalam sumsum tulang belakang, saraf aferen ini bersinapsis dengan beberapa saraf penghubung, ada saraf penghubung yang menuju otak dan ada saraf yang bersinapsis dengan saraf eferen ke efektor. Potensial aksi yang melalui jalur eferen ke efektor akan menghasilkan gerak menarik jari tangan, sedangkan yang menuju ke otak menghasilkan kesadaran apa yang terjadi dan rasa panas.
Refleks menarik tangan yang kena benda panas (withdrawal reflex)termasuk refleks polisinaptik, sebab refleks jenis ini melibatkan banyak sinaps. Hanya ada satu refleks yang lebih sederhana daripada withdrawal reflex, yaitu refleks regangan (stretch reflex) yang merupakan refleks monosinaptik, karena dalam lengkung refleksnya hanya ada satu sinaps yaitu antara saraf aferen langsung dengan saraf eferen. Contoh refleks monosinaptik adalah refleks patela.


DAFTAR PUSTAKA
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar