Jumat, 29 Maret 2013

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT-BASED LEARNING)


I.         PENDAHULUAN
Perkembangan pendidikan nasional dapat dilihat dari perkembangan kurikulum nasional, karena kurikulum merupakan penentu aliran pendidikan ke arah yang lebih sempit yaitu tingkat satuan pendidikan (sekolah tingkat atas, menengah maupun dasar). Kurikulum yang digunakan Indonesia sejak tahun 2006 adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Melalui KTSP, siswa diharapkan tidak hanya pandai secara kognitif, akan tetapi juga memiliki kemampuan dalam dunia nyata, akhlak mulia, penerapan tingkah laku, sebagai realisasi materi yang dipelajari di kelas.
Mata pelajaran biologi memungkinkan untuk menghubungkan antara teori dengan praktek yang bersifat membangun pengetahuan peserta didik (konstruktivistik) terhadap lingkungan sekitar, sehingga tujuan KTSP dimungkinkan dapat tercapai secara maksimal. Menurut Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 matapelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Permasalahan yang timbul adalah siswa tidak mampu menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan.
Pembelajaran yang ideal adalah pebelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered), siswa akan berusaha mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan terlibat aktif dalam mencari informasi (Permendiknas No. 22, Th. 2006). Salah satu pembelajaran yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendekatan PBL. Fokus dari PBL terletak pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti dari suatu disiplin studi, melibatkan pebelajar dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain, memberi kesempatan pebelajar bekerja secara otonom untuk mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri, dan mengkulminasikannya dalam produk nyata. PBL merupakan sebuah pembelajaran inovatif yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks.

II.      TUJUAN
2.1         Untuk mengetahui sejauh mana penggunaan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.
2.2         Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).

III.   PEMBAHASAN
3.1   Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek (Thomas, dkk, 1999). Melalui pembelajaran kerja proyek, kreativitas dan motivasi siswa akan meningkat (Clegg, 2001; Clegg & Berch, 2001). Kerja proyek dapat dipandang sebagai bentuk open-ended contextual activity-bases learning, dan merupakan bagian dari proses pembelajaran yang memberi penekanan kuat pada pemecahan masalah sebagai suatu usaha kolaboratif (Richmond & Striley, 1996), yang dilakukan dalam proses pembelajaran pada periode tertentu (Hung & Wong, 2000).
Kerja proyek memuat tugas-tugas yang kompleks berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan (problem) yang sangat menantang, dan menuntut siswa untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegihatan investigasi,  serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja secara mandiri (Thomas, dkk, 1999). Tujuannya adalah agar siswa mempunyai kemandirian dalam menyelesaikan tugas yang dihadapinya.

3.2   Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek
            Pembelajaran berbasis proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif, dan lebih menekankan  pada belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. (CORD, 2001; Thomas, Mergendoller, & Michaelson, 1999; Moss, Van-Duze, Carol, 1998). Fokus pembelajaran terletak pada prinsip dan konsep inti dari suatu disiplin  ilmu, melibatkan siswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain, memberi kesempatan siswa bekerja secara otonom dalam mengons-truksi pengetahuan mereka sendiri, dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata (Thomas, 2000). Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa (Gaer, 1998).
            Sedangkan menurut Buck Institute for Education (1999) belajar berbasis proyek memiliki karakteristik berikut.
a.       Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja.
b.      Terdapat masalah yang pemecahannya  tidak ditentukan sebelumnya.
c.       Siswa merancang proses untuk mencapai hasil.
d.      Siswa bertanggunga jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan.
e.       Siswa melakukan evaluasi secara kontinu.
f.       Siswa secara teratur melihat kembali apa yang meraka kerjakan.
g.      Hasil akhir berupa produk dan di evaluasi kualitasnya.
h.      Kelas memiliki atmosfir yang memberikan toleransi kesalahan dan perubahan.

3.3   Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek
            Sebagai sebuah model pembelajaran, menurut Thomas  (2000), pembelajaran berbasis proyek mempunyai beberapa prinsip, yaitu (a) sentralistis (centrality), (b) pertanyaan/penuntun (driving question), (c) investigasi konstruktif (constructive investigation), (d) otonomi (autonomy), dan (e) realistis (realism).
a.       Prinsip sentralistis (centrality) menegaskan bahwa kerja proyek merupakan esensi dari kurikulum. Model ini merupakan pusat strategi pembelajaran, di mana siswa belajar konsep utama  dari suatu pengetahuan mmelalui kerja proyek. Oleh karena itu, kerja proyek bukan merupakan praktik tambahan dan aplikasi praktis dari konsep yang sedang dipelajari, mellainkan menjadi sentral kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran akan dapat dilaksnakan secara optimal. Dalam pembelajaran berbasis proyek, proyek adalah strategi pembelajaran; siswa mengalami dan belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek.
b.      Prinsip pertanyaan oendorong/penuntun (driving question) berarti bahwa kerja proyek berfokus pada “pertanyaan atau permasalahan” yang dapat mendorong siswa untuk berjuang memperoleh konsep atau prinsip utama suatu bidang tertentu. Kaitan antara pengetahuan konseptual dengan aktivitas nyata dapat ditemui melalui pengajuan pertanyaan  (Blumenfeld, dkk., 1999) ataupun dengan cara mmemberikan  masalah dalam bentuk definisi yang lemah (Stepien & Gallagher, 1993). Jadi, dalam hal ini kerja sebagai external motivation yang mampu mengubah siswa (internal motivation) untuk menumbuhkan kemandiriannya dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran (Clegg, 2001).
c.       Prinsip investigasi konstruktif (constructive investigation) merupakan proses yang mengarah kepada pencapaian tujuan, yang mengandung  kegiatan inkuiri, pemba-ngunan konsep, dan resolusi. Dalam investigasi memuat proses perancangan, pembuatan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, discovery, dan pembentukan model. Di samping itu, dalam kegiatan pembelajaran berbasis proyek ini harus tercakup proses transformasi dan konstruksi pengetahuan (Bereiter & Scardamalia, 1999). Jika kegiatan utama dalam kerja proyek tidak menimbulkan masalah bagi siswa,  atau permasalahan itu dapat dipecahkan oleh siswa melalui pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, maka kerja proyek itu sekadar “latihan”, bukan proyek dalam konteks pembelajaran berbasis proyek (Suhartadi, 2001). Oleh karena itu, penentuan jenis proyek haruslah dapat mendorong siswa untuk mengonstruksi pengetahuan sindiri untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya. Dalam hal ini guru harus mampu merancang suatu kerja proyek yang mampu menumbuhkan rasa ingin meneliti, rasa untuk berusaha memecahkan masalah, dan rasa ingin tahu yang tinggi.
d.      Prinsip otonomi (autonomy) dalam pembelajaran berbasis proyek dapat diartikan sebagai kemandirian siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran, yaitu bebas menentukan pilihannya sendiri, bekerja dengan minimal supervise, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, lembar kerja siswa, petunjuk kerja praktikum, dan yang sejenisnya bukan merupakan aplikasi dari prinsip pembelajaran berbasis proyek (Suhartadi, 2001). Dalam hal ini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator untuk mendorong tumbuhnya kemandirian siswa.
e.       Prinsip relistis (realism) berarti bahwa proyek merupakan sesuatu yang nyata, bukan seperti di sekolah (Suhartadi, 2001). Pembelajaran berbasis proyek harus dapat memberikan perasaan realistis kepada siswa, termasuk dalam memilih topik, tugas, dan peran konteks kerja, kolaborasi kerja, produk, pelanggan, maupun standar produknya. Gordon (1998) membedakan antara tantangan akademis, tantangan yang dibuat-buat, dan tantangan nyata. Pembelajaran berbasis proyek mengandung tantangan nyata yang berfokus pada permasalahan  yang autentik (bukan simulasi), bukan dibuat-buat, dan  solusinya dapat diimplementasikan di lapangan. Untuk itu, guru harus mampu mebrancang proses pembelajaran yang nyata, dan hal ini bisa dilakukan dengan mengajak siswa belajar pada dunia kerja yang sesungguhnya (Dryden & Vos, 2001). Jadi, guru harus mampu menggunakan dunia nyata sebagai sumber belajar bagi siswa. Kegiatan ini akan dapat meningkatkan motivasi, kreativitas, sekaligus kemandirian siswa dalam pembelajaran.

3.4   Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek
Menurut Moursund (1997) beberapa keuntungan dari pembelajaran berbasis proyek antara lain sebagai berikut.
a.       Increased motivation. Pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terbukti dari beberapa laporan penelitian tentang pembelajaran berbasis proyek yang mengatakan bahwa siswa sangat tekun, berusaha keras untuk menye-lesaikan proyek, siswa merasa lebih bergairah dalam pembelajaran, dan keterlambatan dalam kehadiran sangat berkurang.
b.      Increased problem-solving ability. Beberapa sumber mendeskripsikan bahwa lingkung-an belajar pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kemampuan memecah-kan masalah, membuat siswa lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang bersifat kompleks.
c.       Improved library research skills. Karena pembelajaran berbasis proyek mempersyarat-kan siswa harus mampu secara cepat memperoleh informasi melalui sumber-sumber informasi, maka keterampilan siswa untuk mencari dan mendapatkan informasi akan meningkat.
d.      Increased collaboration. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek.
e.       Increased resource-management skills. Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplemen-tasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

3.5   Dukungan Teoretis Pembelajaran Berbasis Proyek
            Secara teoretis dan konseptual, pembelajaran berbasis proyek juga didukung oleh teori aktivitas (Hung dan Wong, 2000). Activity theory [online] menyatakan bahwa struktur dasar suatu kegiatan terdiri atas: (a) tujuan yang ingin dicapai, (b)  subjek yang berada dalam konteks, (c) suatu masfyarakat di mana pekerjaan itu dilakukan dengan perantaraan, (d)  alat-alat, dan (e) peraturan kerja dan pembagian tugas. Dalam penerapannya di kelas bertumpu pada kegiatan belajar aktif dalam bentuk melakukan sesuatu (doing) daripada kegiatan pasif menerima transfer pengetahuan dari guru.
            Pembelajaran berbasis proyek juga didukung oleh teori belajar konstruktivistik, yang bersandar pada ide bahwa siswa membangun pengetahuannya sendiri di dalam konteks pengalamannya sendiri (Murphy, 1997, [Online]). Pembelajaran berbasis proyek dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa mengkonstruk pengetahuan dan keterampilan secara personal. Ketika pembelajaran berbasis  proyek dilakukan dalam model belajar kolaboratif dalam kelompok kecil siswa, pembelajaran berbasis  proyek juga mendapat dukungan teoretis yang bersumber dari konstruktivisme sosial  Vygotsky yang memberikan landasan pengembang-an kognitif melalui peningkatan intensitas interaksi antarpersonal (Vigotsky, 1978; Moore, 2000). Adanya peluang untuk menyampaikan ide, mendengarkan ide orang lain, dan mere-fleksikan ide sendiri pada orang lain, adalah suatu bentuk pembelajaran individu. Proses interaktif dengan kawan  sejawat membantu proses konstruksi pengetahuan. Dari perspek-tif teori ini pembelajaran berbasis proyek dapat membantu siswa meningkatkan keteram-pilan dan memecahkan masalah secara kolaboratif.

3.6   Perbedaan Penekanan Pembelajaran Berbasis Proyek dan Pembelajaran Tradisional
Menurut Buck Institute for Education, terdapat perbedaan antara pembelajar tradisional dan pembelajaran proyek.
Aspek Pendidikan
Penekanan Pembelajaran Tradisional
Penekanan Pembelajaran Berbasis Proyek
Fokus
Kurikulum
Cakupan isi
Kedalaman pemahaman
Pengetahuan tentang fakta
Penguasaan konsep dan prinsip
Belajar keterampilan “Building-blok” dalam isolasi
Pengembangan keterampilan pe-mecahan masalah kompleks
Lingkup dan
Urutan
Mengikuti urutan kurikulum se-cara ketat
Mengikuti minat siswa
Berjalan dari blok ke blok atau unit ke unit
Unit-unit besar terbentuk dari pro-blem dan isu yang kompleks
Memusat, fokus berbasis disi-plin
Meluas, fokus, interdisipliner
Peranan
Guru
Penceramah dan  direktur pem-belajaran
Penyedia sumber belajar dan parti-sipasi di dalam kegiatan belajar
Ahli
Pembimbing/partner
Fokus
Pengukuran
Produk
Proses dan produk
Skor tes
Pencapaian yang nyata
Membandingkan dengan yang lain
Unjuk kerja yang standar dan ke-majuan dari waktu ke waktu
Reproduksi informasi
Demonstrasi pemahaman
Bahan-bahan
Pembelajaran
Teks, ceramah, dan presentasi
Langsung sumber asli; bahan-bahan tercetak, interview, doku-men, dan lain-lain
Kegiatan dan lembar latihan di-kembangkan guru
Data dan bahan dikembangkan oleh siswa
Penggunaan
Pendukung, peripheral
Utama, integral
Teknologi
Dijalankan guru
Diarahkan siswa
Kegunaan untuk perluasan pres-tasi guru
Kegunaan untuk memperluas pres-tasi siswa atau penguatan kemam-puan siswa
Konteks
Kelas
Siswa bekerja sendiri
Siswa bekerja dalam kelompok
Siswa kompetisi satu dengan yang lainnya
Siswa kolaboratif satu dengan yang lainnya
Siswa menerima informasi guru
Siswa mengonstruksi berkontribu-si, dan melakukan sintesis informa-si
Peranan
Siswa
Menjalankan perintah guru
Melakukkan kegiatan belajar yang diarahkan oleh diri sendiri
Pengingat dan pengulangan fakta
Pengkaji, integrator, dan penyaji ide
Pembelajar menerima dan me-nyelesaikan tugas-tugas laporan pendek
Siswa menentukan tugas mereka sendiri dan bekerja secara indepen-den dalam waktu yang besar
Tujuan jangka
Pendek
Pengetahuan tentang fakta
Pemahaman dan aplikasi ide  dan proses yang kompleks
Tujuan jangka
Panjang
Luas pengetahuan
Dalam pengetahuan
Lulusan yang memiliki pengetahuan yang berhasil pada tes standar pencapaian
Lulusan yang berwatak dan kete-rampilan mengembangkan diri, mandiri, dan belajar sepanjang hayat

3.7   Langkah-Langkah Mendesain Suatu Proyek
Stienberg (1997) mengajukan enam strategi dalam mendesain suatu proyek yang disebut dengan : The Six A’s of Designing Projects, yaitu (1) Authenticity (keautentikan), (2) Academic Rigor (ketaatan terhadap nilai akademik), (3) Applied Learning (belajar pada dunia nyata), (4) Active Exploration (aktif meneliti), (5) Adult Relationship (hubungan dengan nilai), dan (6) Assessment (penilaian).
Langkah-Langkah
Pertanyaan  Penuntun
Keautentikan
·     Apakah proyek-proyek tersebut mengacu pada permasalahan yang bermakna bagi siswa?
·     Apakah masalah tersebut mungkin scecara nyata dapat dikerjakan oleh siswa?
·     Apakah siswa dapat menciptakan atau menghasilkan sesuatu, baik sebagai pribadi maupun ke-lompok di luar lingkungan sekolah?
Ketaatan terhadap nilai akademik
·     Apakah proyek tersebut dapat membantu atau mengarahkan siswa untuk memperoleh dan me-nerapkan pokok pengetahuan  dalam satu atau lebih disiplin nilmu?
·     Apakah proyek tersebut dapat/mampu memberi tantangan pada siswa untuk mmenggunakan strategi strategi penemuan (ilmiah) dalam satu atau lebih disiplin ilmu? (contoh: berfikir dan bekerja seperti ilmuwan)
·     Apakah siswa dapat mengembangkan keteram-pilan dan kebiasaan berpikir tingkat tinggi? (contoh: pencarian fakta, memandang sesuatu masalah dari berbagai sudut)
Belajar pada dunia nyata
·     Apakah  kegiatan belajar yang dilakukan siswa berada dalam konteks permasalahan semi terstruktur, mengacu pada kehidupan nyata, dan bekerja/berada pada dunia lingkungan luar seko-lah?
·     Apakah proyek dapat mengarahkan untuk mengu-asai dan menggunakan unjuk kerja yang dipersyaratkan dalam organisasi kerja yang menuntut persyaratan tinggi? (contoh: kerja tim; menggunakan teknologi yang tepat; pemecahan masalah dan komunikasi)
·     Apakah pekerjaan tersebut mempersyaratkan siswa untuk mampu melakukan pengembangan organisasi dan mengelola keterampilan pribadi?
Aktif meneliti
·     Apakah siswa menggunakan sejumlah waktu se-cara signifikan untuk mengerjakan bidang utama pekerjaannya?
·     Apakah proyek tersebut mempersyaratkan siswa untuk mampu melakukan penelitian nyata, dan menggunakan berbagai macam strategi, media dan berbagai sumber lainnya?
·     Apakah siswa diharapkan dapat/mampu untuk berkomunikasi tentang  apa yang dipelajari, baik melalui presentasi maupun unjuk kerja?
Hubungan dengan ahli
·     Apakah siswa menemui dan mengamati (belajar dari) teman/orang sebaya (dewasa) yang memiliki pengalaman dan kecakapan yang relevan?
·     Apakah  siswa berkesempatan bekerja/berdiskusi  secara teliti dengan paling tidak seorang teman?
·     Apakah orang dewasa (di luar siswa) dapat beker-ja sama dalam merancang dan menilai hasil kerja siswa?
Penilaian
·     Apakah siswa dapat merefleksi secara berkala proses belajar yang  dilakukiannya dengan meng-gunakan criteria proyek yang jelas, yang kiranya dapat  membantu dalam mmenentukan kiner-janya?
·     Apakah orang luar dapat membantu siswa me-ngembangkan pengertian tentang standar kerja dunia nyata dalam suatu jenis pekerjaan?
·     Apakah ada kesempatan secara regular untuk menilai kerja siswa, terkait dengan strategi yang di-gunakan, termasuk melalui pameran dan porto-folio.

            Keenam langkah evaluasi tersebut dapat dijadikan pedoman dalam merancang suatu bentuk pembelajaran berbasis proyek. Dengan mengacu pada standar tersebut, pembelajaran proyek yang dilakukan siswa dapat lebih bermakna bagi pengembangan dirinya.
            Di samping itu, Kraft (1998) dari RMC Research Corporation Denver, Colorado menyusun kriteria keautentikan pembelajaran berbasis proyek sebagai berikut.
a.       Menggunakan berbagai gaya belajar
b.      Lebih berorientasi proses belajar pada dunia nyata
c.       Menyajikan lingkungan belajar yang mampu memberikan umpan balik yang positif dan berbagai pilihan bentuk pembelajaran
d.      Mendorong siswa untuk mampu menggunakan proses berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran
e.       Mampu menyajikan tingkat pemahaman yang mendalam
f.       Dapat diakses moleh semua siswa
g.      Menggunakan berbagai model komunikasi
h.      Penilaian berpijak pada isi/tujuan pembelajaran
i.        Masing-masing  siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya
j.        Siswa merasakan keterkaitan antara isi pembelajaran dengan kurikulum
k.      Masalah/pembelajaran yang diberikan mampu menghasilkan proses belajar yang bermakna
l.        Proses belajar mendorong siswa untuk mampu melakukan pengumpulan data-analisis data menarik kesimpulan
m.    Proyek/permasalahan yang dipelajari harus memiliki nilai (bermakna) bagi siswa
n.      Proses belajar/materi pembelajaran harus mampu  dikaitkan dengan berbagai disiplin keilmuan
o.      Menempatkan guru berperan sebagai fasilitator
p.      Mendorong siswa melakukan penilaian mandiri terhadap kegiatan belajarnya.

3.8   Prosedur/Desain Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembimbingan oleh guru dan penyelesaian tugas oleh siswa mengacu pada prinsip metode pembelajaran berbasis proyek seperti berikut.
Prinsip
Pengertian
Aplikasi
Keautentikan
·    Proyek yang dikerjakan sis-wa harus mengacu pada permasalahan yang ber-makna bagi siswa.
·    Proyek/masalah tersebut harus secara nyata dapat di-kerjakan oleh siswa.
·    Dari kegiatan proyek terse-but siswa harus dapat men-ciptakan atau menghasilkan sesuatu, baik sebagai priba-di maupun kelompok di lu-ar lingkungan sekolah.
·    Proyek yang dikerjakan harus berguna baik secara praktis maupun teoretis bagi siswa.
·    Proyek tersebut harus da-pat dikerjakan oleh siswa dalam rentang waktu yang ditentukan (1 semes-ter).
·    Proyek harus menghasil-kan produk (pengetahuan /keterampilan baru).
Ketaatan terhadap nilai-nilai akademik
·    Kegiatan proyek harus da-dap membantu atau meng-arahkan siswa untuk mem-peroleh dan menerapkan pokok pengetahuan dalam satu atau lebih  disiplin ilmu
·    Proyek tersebut harus da-pat/mampu memberi tanta-ngan pada siswa untuk menggunakan metode-me-tode penemuan (ilmiah) da-lam satu atau lebih disiplin ilmu (contoh: berpikir dan bekerja seperti ilmuwan).
·    Proyek harus mampu men-dorong siswa mengem-bangkan keterampilan dan kebiasaan berpikir tingkat tinggi? (contoh: pencarian fakta, memandang sesuatu masalah dari berbagai su-dut).
·    Dalam kegiatan proyek siswa dapat mengaplikasi-kan pengetahuan bidang studi pokok yang dipela-jari.

·    Kegiatan proyek tersebut harus dapat merangsang siswa menggunakan me-tode-metode penemuan (ilmiah) dalam satu atau lebih disiplin ilmu yang di-pelajari.


·    Kegiatan proyek tersebut harus dapat merangsang siswa menggunakan kete-rampilan dan kebiasaan berpikir tingkat tinggi.
Belajar pada dunia nyata
·     Apakah kegiatan belajar yang dilakukan siswa berada dalam konteks permasalahan semi ter-struktur, mengacu pada kehidupan nyata, dan bekerja/berada pada dunia lingkungan luar sekolah?
·     Apakah proyek dapat mengarahkan untuk me-nguasai dan menggunakan unjuk kerja yang dipersya-ratkan dalam organisasi kerja yang menuntut per-syaratan tinggi? (contoh: kerja tim; menggunakan teknologi yang tepat; pe-mecahan masalah dan ko-munikasi)
·     Apakah pekerjaan tersebut mempersyaratkan siswa untuk mampu melakukan pengembangan organisasi dan mengelola keteram-pilan pribadi?
·    Proyek harus mengacu pa-da kehidupan nyata/per-masalahan yang ada di masyarakat.





·    Proyek harus merangsang siswa untuk bekerja secara tim, menggunakan teknologi yang tepat.







·    Proyek tersebut mampu merangsang siswa untuk  melakukan pengembangan organisasi dan menge-lola keterampilan pribadi.
Aktif meneliti
·     Apakah siswa mengguna-kan sejumlah waktu secara signifikan untuk mengerja-kan bidang utama pekerja-annya?
·     Apakah proyek tersebut mempersyaratkan siswa untuk mampu melakukan penelitian nyata, dan menggunakan berbagai macam strategi, media dan berbagai sumber lainnya?
·     Apakah siswa diharapkan dapat/mampu untuk berko-munikasi tentang apa yang dipelajari, baik melalui pre-sentasi maupun unjuk kerja?
·    Proyek harus diselengga-rakan  tepat waktu.



·    Proyek harus merangsang siswa untuk mampu mela-kukan penelitian nyata, dan menggunakan berba-gai macam metode, media, dan berbagai sumber lainnya.
·    Siswa harus mampu untuk berkomunikasi tentang apa yang dipelajari baik melalui presentasi mau-pun unjuk kerja.
Hubungan dengan ahli
·     Apakah siswa menemui dan mengamati (belajar dari) teman/orang sebaya (de-wasa) yang memiliki penga-laman dan kecakapan yang relevan?
·     Apakah siswa berkesem-patan bekerja/berdiskusi  secara teliti dengan paling tidak seorang teman?
·     Apakah orang dewasa (di luar siswa) dapat bekerja sama dalam merancang dan menilai hasil kerja siswa?
·    Siswa harus mampu bela-jar dari teman/orang se-baya (dewasa) yang me-miliki pengalaman dan ke-cakapan yang relevan.

·    Siswa harus dapat bekerja /berdiskusi  secara teliti dengan paling tidak seorang teman.
·    Siswa harus dapat bekerja sama dalam merancang dan menilai hasil kerja siswa.
Penilaian
·     Apakah siswa dapat mere-fleksi secara berkala proses belajar yang dilakukiannya dengan menggunakan kri-teria proyek yang jelas, yang kiranya dapat  mem-bantu dalam mmenentukan kinerjanya?
·     Apakah orang luar dapat membantu siswa mengem-bangkan pengertian ten-tang standar kerja dunia nyata dalam suatu jenis pekerjaan?
·     Apakah ada kesempatan secara regular untuk me-nilai kerja siswa, terkait dengan strategi yang di-gunakan, termasuk melalui pameran dan portofolio.
·    Siswa harus mampu meni-lai unjuk kerjanya.






·    Siswa harus mampu be-kerja sama dengan orang luar (ahli/praktisi yang se-bidang dengan kegiatan proyek).

·    Ada sistem penilaian regu-ler untuk menilai kerja sis-wa, terkait dengan meto-de yang digunakan, ter-masuk melalui pameran dan portofolio.


3.9   Pedoman Pembimbingan
Dalam membimbing siswa dalam pembelajaran berbasis proyek ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan  dijadikan pijakan tindakan. Adapun pedoman pembimbingan tersebut antara lain sebagai berikut.
a.      Keautentikan
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut.
1)      Mendorong dan membimbing siswa untuk memahami kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan
2)      Merancang tugas siswa sesuai dengan kemampuannya sehingga ia mampu menyelesai-kannya tepat waktu
3)      Mendorong dan membimbing siswa agar mampu menghasilkan sesuatu dari tugas yang dikerjakannya.

b.      Ketaatan terhadap Nilai-Nilai Akademik
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut.
1)      Mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu menerapkan berbagai pengetahuan/ disiplin ilmu dalam menyelesaikan tugas yang dikerjakan
2)      Merancang dan mengembangkan tugas-tugas yang dapat memberi tantangan pada siswa untuk menggunakan berbagai metode dalam pemecahan masalah
3)      Mendorong dan membimbing siswa untuk mampu berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah.

c.       Belajar pada Dunia Nyata
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut.
1)      Mendorong dan membimbing siswa untuk mampu bekerja pada konteks permasalahan yang nyata yang ada di masyarakat
2)      Mendorong dan mengarahkan agar siswa mampu bekerja dalam situasi organisasi yang menggunakan teknologi tinggi
3)      Mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu mengelola kemampuan keterampilan pribadinya.

d.      Aktif Meneliti
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut.
1)      Mendorong dan mengarahkan  siswa agar dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan jadwal yang telah dibuatnya
2)      Mendorong dan mengarahkan  siswa untuk melakukan penelitian dengan berbagai macam metode, media, dan berbagai sumber
3)      Mendorong dan mengarahkan  siswa agar mampu berkomunikasi dengan orang lain, baik melalui presentasi ataupun media lain.

e.       Hubungan dengan Ahli
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut.
1)      Mendorong dan mengarahkan  siswa untuk mampu belajar dari orang lain yang memilki pengetahuan yang relevan
2)      Mendorong dan mengarahkan siswa bekerja/berdiskusi dengan orang lain/temannya dalam memecahkan masalahnya
3)      Mmendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak/minta pihak luar untuk terlibat dalam menilai unjuk kerjanya.

f.        Penilaian
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut.
1)      Mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu melakukan evaluasi diri terhadap kinerjanya dalam mengerjakan tugasnya
2)      Mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak pihak luar untuk terlibat mengembangkan standar kerja yang terkait dengan tugasnya
3)      Mendorong dan mengarahkan siswa untuk menilai unjuk kerjanya.
  
IV   KESIMPULAN
1.      Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek.
2.      Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa.
3.      Pembelajaran berbasis proyek mempunyai beberapa prinsip, yaitu (a) sentralistis (centrality), (b) pertanyaan/penuntun (driving question), (c) investigasi konstruktif (constructive investigation), (d) otonomi (autonomy), dan (e) realistis (realism).
4.      Secara teoretis dan konseptual, pembelajaran berbasis proyek juga didukung oleh teori aktivitas dan teori belajar konstruktivistik serta pembelajaran berbasis  proyek juga mendapat dukungan teoretis yang bersumber dari konstruktivisme sosial  Vygotsky yang memberikan landasan pengembang-an kognitif melalui peningkatan intensitas interaksi antarpersonal. Sehingga dari perspektif teori ini pembelajaran berbasis proyek dapat membantu siswa meningkatkan keteram-pilan dan memecahkan masalah secara kolaboratif.
5.      Stienberg mengajukan enam strategi dalam mendesain suatu proyek yang disebut dengan : The Six A’s of Designing Projects, yaitu (1) Authenticity (keautentikan), (2) Academic Rigor (ketaatan terhadap nilai akademik), (3) Applied Learning (belajar pada dunia nyata), (4) Active Exploration (aktif meneliti), (5) Adult Relationship (hubungan dengan nilai), dan (6) Assessment (penilaian).
6.      Keenam langkah evaluasi tersebut dapat dijadikan pedoman dalam merancang suatu bentuk pembelajaran berbasis proyek. Dengan mengacu pada standar tersebut, pembelajaran proyek yang dilakukan siswa dapat lebih bermakna bagi pengembangan dirinya.
7.      Perbedaan penekanan pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran tradisional terletak pada beberapa aspek pendidikan berikut. (1) fokus kurikulum, (2) lingkup dan urutan, (3) peranan guru, (4) fokus pengukuran, (5) bahan-bahan pembelajaran, (6) penggunaan, (7) teknologi, (8) konteks kelas, (9) peranan siswa, (10) tujuan jangka pendek, dan (11) tujuan jangka panjang.



DAFTAR RUJUKAN
Bereiter, C., & Scardamalia, M, 1999. Process and Product in Project Base Learning Research. Toronto: Ontario Institute for Studies in Education, University of Toronto.
Buck Institute for Education. 2001. Project Base Learning Overview: Differences From Traditional Instruction. http://www.bie.org/pbl/everview/ diffstraditional.htmk.
Blumenfeld, P. Soloway, E., Mark, R., Krajick, J., Guzdial, M dan Palinscar, A. 1991. Motivating Project Base Learning: Sustaining Doing, Supporting the Learning. Educational Psychologist. 26 (3&4), 389-398.
Clegg, B. 2001. Instance Motivation. Jakarta: Erlangga.
Clegg, B., & Berch, P. 2001. Instance Creativity. Jakarta: Erlangga.
CORD. 2001. Contextual Learning Resource. http://www.cord.org/lev2.cfm/65.
Drayden, C., & Vos, J. 2001. The Learning Revolution. Bandung: Kaifa.
Gaer, S. 1998. What is Project-Based Learning?. http://members.aol.com/Culebra Mom/ pblprt.html.
Hung, D.W., & Wong, A.F.L. 2000. Activity Theory as a Framework for Project Work in Learning Environment. Educational Technology. 40 92), 33-37.
Moore, D. 2000. Toward a Theory of Work-Base Learning. IEE Brief, 23 January, (Online).
Moss, D., & Van-Duzer, C. 1998. Project Base Learning for Adult English Language Learner. ERIC Gigest, ED427556. http://www.ed. gov/database/ERIC-Digest/Ed427556/html.
Moursund, D. 1997. Project: Road a Head (Project-Based Learning). http://www.iste.org/ reseacrh/roadahead/pbl.html.
Richmond, G., & Striley, J. 1996. Making Meaning in Classroom: Social Processes in Small-Group Discourse and Physics Knowledge Building. Journal of Research in Science Teaching. 33 98), 839-858.
Steinberg, A. 1997. The Six A’ a of Design Projects. http://ph.red.ru/pedsovet/ GSN/pbl. Sixa.htm.
Stepien, W., & Gallagher, S. 1993. Problem Base Learning: As Authentic as it Gets. Educa-tion Leadership. 51, 25-28.
Suhartadi, S. 2001. Menumbuhkan Kemandirian dan Kegairahan Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Teknologi di SMK. Makalah Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Profesionalitas Guru SMK Melalui Kajian Kelas yang Diselenggarakan pada Tanggal 4 September 2001 di Kampus Universitas Negeri Malang.
Thomas, J.W., Mergendoller, J.R. & Michaelson, A. 1999. Project Base Learning: A Handbook of Middle and High School Teacher. Novato CA: The Buck Institute for Education.
Vygotsky, L.S. 1978. Mind in Society. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar