Jumat, 15 Februari 2013

MENGENAL SELUK – BELUK LINTAH


Lintah, siapa sih yang tidak mengenal hewan yang satu ini? Boleh jadi, bagi sebagian orang, lintah tergolong hewan menjijikkan. Hal ini dikarenakan bentuk tubuhnya yang licin, berwarna gelap,cukup menjijikan dan menyeramkan. Apalagi, kebiasaannya adalah menghisap darah, baik darah hewan maupun darah manusia. Maka dari itu, hewan ini dijuluki sebagai hewan vampire atau pengisap darah.
Meskipun lintah terkesan menjijikkan, namun perlu Anda ketahui bahwa dibalik tampilan tubuhnya yang menjijikkan itu terdapat sejuta khasiat yang superdahsyat. Benarkah? Ya, berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli kedokteran membuktikan bahwa lintah dapat mengobati berbagai penyakit degeneratif,  mulai dari yang ringan sampai yang berat.
Bagaimanakah caranya? Dan, penyakit apa saja yang bisa disembuhkan dengan lintah? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas  berikutnya.
Nah, khusus pada bab ini, saya sengaja tidak langsung membahas tentang kedahsyatan lintah dalam menyembuhkan beragam penyakit tersebut, tetapi saya memulainya dengan perkenalan awal tentang lintah. Maka dari itu, di sini disajikan pengetahuan dasar seputar lintah.
Nama kelas Hirudinea berasal dari kata hirudo yang berarti lintah. Hewan ini hidup di air tawar, laut, dan darat. Tubuh lintah ini pipih dorsal ventral dan permukaannya tertutup oleh kutikula yang disekresikan oleh epidermis. Lintah tidak memiliki seta dan parapodia. Hewan tersebut mempunyai dua alat isap yang berada di ujung anterior dan posterior.
Lintah hidup sebagai ektoparasit temporer, yaitu hidup menempel sementara pada manusia atau mamalia lainnya untuk menghisap darah. Cairan tubuh/darah yang dihisap disimpan di dalam tembolok. Terkait itu, perlu diketahui bahwa lintah bersifat hermafrodit.
Mayoritas lintah hidup di air tawar, namun ada juga lintah darat atau tanah yang bergerak melalui vegetasi lembab. Banyak lintah memakan invertebrata lainnya, tetapi beberapa jenis lintah adalah parasit penyedot darah yang makan secara menempel pada hewan lain secara temporer, termasuk manusia.
Lintah memiliki panjang sekitar 1 – 30 cm. Beberapa spesies parasit menggunakan rahang yang mirip pisau untuk mengiris kulit inang, sedangkan yang lain mengekskresikan enzim yang mencerna suatu lubang melalui kulit. Inang umumnya tidak sadar terhadap serangan ini karena lintah mengekskresikan suatu anestesi. Setelah membuat sayatan, lintah menyekresikan bahan kimia lainnya, yaitu hirudin, yang fungsinya mempertahankan darah inang supaya tidak mengumpal. Selanjutnya, parasit itu menyedot darah sebanyak yang dapat ditampungnya.
Setelah menyedot banyak darah, lintah bisa bertahan selama berbulan-bulan tanpa makan. Sejak berabad yang lalu, lintah sering kali digunakan oleh dokter untuk mengambil darah. Bahkan, sampai saat ini pun, pada zaman modern, lintah masih tetap digunakan untuk mengobati memar dan merangsang sirkulasi darah ke jari tangan atau kaki yang telah dijahit kembali setelah kecelakaan.
Anggota kelompok hewan ini meliputi lintah dan pacet. Hirudo medicinalis (lintah) bisa menghasilkan zat hirudin. Lintah banyak ditemukan di Eropa dan Amerika. Sedangkan, Haemadispa zeylanica (pacet) banyak hidup di Asia Tenggara. Adapun Hirudinaria javanica disebut juga lintah kuning.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar