Rabu, 02 Januari 2013

ASUHAN KEPERAWATAN STROKE ISKHEMIK



BAB I
PENDAHULUAN 
1.1       Latar Belakakang Masalah
Perkembangan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan atau mewujudkan hidup sehat bagi segenap penduduk Indonesia yang optimal melalui upaya-upaya kesehatan yaitu upaya pomotif, preventif , kuratif dan rehabilitatif baik bagi individu, keluarga dan  masyarakat.
Upaya-upaya tersebut dilaksanakan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk hidup sehat, yaitu sesuai dengan dinamika dan perkembangan pola masyarakat dalam masyarakat salah satu stroke.
Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering, karena ditandai dengan tinggginya morbiditas dan mortalitas, selain itu tampak padanaya kecenderungan peningkatan insidennya. Stroke menempati urutan ketiga dalam urutan penyebab kematian, setelah penyakit jantung dan kanker di Negara maju sedangkan dinegara berkembang stroke merupakan penyakit neurologis yang terbanyak di jumpai, selain jumlahnya yang banyak dan angka kematian cukup tinggi ( Bustan, MN, 1997 ).
Menurut Chen, stroke iskhemik dapat mengalami serangan sakit kepala yang tidak tahu penyebabnya, dan harus dilakukan pengobatan segera, karena secara tiba-tiba dapat mengalami kesulitan bicara, melihat, berjalan dan dapat menimbulkan atau mengalami kelemahan bagian tubuh terutama tangan dan kaki sebelah serta dapat mengalami kelumpuhan yang lebih parah ( www.gemari.or.id, 2005 )
Di Indonesia stroke iskhemik merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama, serangan otak ini merupakan kegawat daruratan medis yang harus ditangani secara tepat dan cermat ( Mansjoer, 2000 ), oleh karena itu peran perawat sangat diperlukan dalam upaya pencegahan komplikasi dan kecacatan yang lebih lanjut melalui tindakan keperawatan dan pendidikan kesehatan, dengan cara memperlihatkan sikap dan posisi terutama anggota badan yang lumpuh untuk mencegah terjadinya kecacatan dan untuk memberikan rasa nyaman pada pasien. Selain itu juga harus memberikan latihan-latihan pasif anggota gerak atas dan bawah yang berguna untuk peredaran darah, mencegah kekakuan otot dan sendi, sehingga anggota gerak yang lumpuh dapat berfungsi secara normal kembali.
Menurut data yang punulis dapatkan dari buku register dari Ruang  Rawat Penyakit Saraf Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dari tanggal 21 maret 2005 sampai dengan 13 mei 2005, didapatkan jumlah penderita yang dirawat inap sebanyak 77 orang, berdasarkan jumlah tersebut, 34 orang ( 44,15 % ) penderita stroke. Juilah penderita stroke tersebut dabagi dalam dua jenis yaitu stroke iskhemik 30 orang ( 38,96 % ) dan stroke hemoragik 4 orang, ( 5, 19 % ), (Buku register Ruang Rawat  Penyakit Saraf Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh).
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka sebagai seorang perawat yang mempunyai peranan penting dalam pelayanan kesehatan dituntut untuk memberikan pelayanan keperawatan secara profesional berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan sehingga mampu membantu pasien dan keluarganya dalam menanggulangi dan menyelesaikan masalah keperawatan yang sedang dialaminya. Secara lebih khusus perawat diharapkan mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dan kelurganya secara sistematis berdasarkan hirarki Maslow dan kebutuhannya yang nantinya akan membawa pasien dan keluarganya pada keadaan yang lebih baik.


BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1        Pengertian
Stroke Iskemik adalah merupakan suatu penyakit defisit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Kejadian serangan penyakit ini bervariasi antar tempat, waktu dan keadaan penduduk ( Bustan, M. N, 997 ).
2.2        Penyebab
2.2.1   Trombosis
Merupakan penyebab Stroke Iskemik yang paling sering,. Trombosis ditemukan pada 40 % dari semua kasus yang telah dibuktikan oleh ahli patologi. Biasanya ada kaitannya dengan kerusakan lokal dinding pembuluh darah akibat osteroklerosis ( Price, Wilson, 1995).
2.2.2        Embilosme
Embolisme serebri termasuk urutan kedua dari berbagai macam penyebab utama stroke. Penderita embolisme biasanya lebih muda dibandingkan dengan penderita trombosis, kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu trombus dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesunggujnya merupakan perwujudan penyakit jantung ( Price, Wilson, 1995 ).
2.2.3        Pendarahan Serebri
Pendarahan serebri termasuk ututan ketiga dari penyebab utama kasus GPDO. Pendarahan intracranial biasanya disebabkan oleh ruptural arteri  serebri. Eksravasasi darah terjadi didaerah otak atau subaraknoid, sehingga jaringan yang terletak didekatnya akan tergeser atau tertekan ( Price, Wilson, 1995 ).
2.3    Patofisiologis
Penyumbatan pembuluh darah keotak disebabkan trombus dan emboli mengakibatkan gangguan pemasukan darah keotak sehingga terjadi infark otak. Jika ada daerah otak yang iskhemik menjadi nekrosis akan menimbulkan gangguan fungsional dan structural yang menetap ( Bagan 2.3.1 )

Penyumbatan pembuluh darah ke otak oleh trombus dan emboli

Supalai darah ke otak berkurang

Terjadinya Infark otak / Iskhemik

Gangguan fungsional dan struktural yang menetap
Bagan 2.3.1
Patafisiologi stroke iskhemik
( sumber : Epidemiologi penyekit tidak menular, 1997 )
2.4    Tanda dan Gejala
Gangguan neurologist yang timbul tergantung pada besar ruangannya, ganggua pembuluh darah dan lokasinya. Jika arteri karotis dan serebral yang terkena, paseien dapat mengalami kebutaan pada satu matanya, hemiplegia, hermianatesia, gangguan bicara dan kekacauan mental. Jika yang terkena arteri vertebrobasiler, maka akan terjadi pening, diplopia, semutan, kelainan penglihatan pada salah satu atau kedua bidang pandang dan disoftria ( Hendok dan Gallo, 1996 ).
Kelumpuhan pada badan bagian kanan ( hemiplegia kanan ) terjadi bila stroke telah merusak bagian kiri otak dan sebaliknya, cirri-ciri mereka yang mengalami kerusakan otak bagian kiri antara lain kesukaran berbicara dan mengeluarkan kata-kata, prilaku dapat berubah yaitu pencuriga, khawatir dan kacau bila melakukan perintah. Sebaliknya bila mengalami hemiplegia kiri akan mengalami kemunduran persepsi terhadap ruangan, jarak, ukuran, posisi kecepatan, gerak dan bentuk. Orang seperti ini sering menyembunyikan kitidakmampuan dengan cara menunjukkan kemampuan berbicara yang lebih baik ketimbang kemampuan yang sebenarnya. Mereka yang berindak menuruti kata hatinya ( impilsif ) dan acuh ( Gardon, 2002 ).
2.5    Diagnosis
Ada dua fenomena pentint yang telah menjadi cirri khas dari semua stroke adalah :
2.5.1        Berlansung sementara
Perubahan mendadak, menandai peristiwa perubahan itu sebagai suatu gangguan pembuluh darah, kemudian terjadi proses perbaikan dalam derajat tertentu, etelah masa stabil.
2.5.2        Tanda-tanda neurologist fokal atau lateral
Hemiplegia merupakan tanda klask stroke dan ditemukan pada lesi yang mengenai hemisfer serebri batang otak (Price, Wilson, 1995 ).
Angiografi merupakan alat esensial unruk melihat atau memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. Dapat diakatakan semua daerah vaskuler intracranial dapat divisualisasi, (Price, Wilson, 1995). CT Scan merupakan sarana diagnostik yang berharga untuk menunjukkan adanya hematoma, infark dan pendarahan, penyelidik ini dapat diandalkan untuk mendiagnosis lesi dengan diameter 1,5 cm atau lebih, (Price, Wilson, 1995). Elektro Ensefalo Gram (EEG) dapat membantu dalasm menentukan lokasi. Gelombang delta lebih lambat didaerah yang mengalami gangguan (Price, Wilson, 1995).
2.6    Penatalaksanaan
2.6.1    Perawatan keadaan Akut
Yang perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut ( Price, Wilson, 1995 )
2.6.1.1                   Mempertahankan saluran napas ( sering malakuakn penghisapan yagn dalam, pemasangan O2, Trtakestomi, pasang alat bantu pernafasan bila batang otak terkena.
2.6.1.2         Kendalikan tekanan darah sesuai dengan keadaan masing-masing individu, termasuk  usaha untuk memperbaiki hipotensi maupun hipertensi.
2.6.2                          Deteksi dan memperbaiki aritmia jantung.
2.6.3                          Merawat kandung kemih sedapat mungkin, jangan memasang kateter tinggal; cara ini telah diganti dengan kateterisasi “ keluar – masuk “ tiap 4-6 jam.
2.6.4                          Menempatkan penderita atau posisi penderita dengan baik secepat mungkin
2.6.4.1      Penderita harus dibalik setiap 2 jam dan latiah gerakan pasif setiap 6 jam.
2.6.4.2     Dalam beberapa hari dianjurkan untuk melakukan gerakan pasif penuh sebanyak 50 x / hari, untuk mencegah tekanan didaerah tertentu dan mencegah kontraktur ( Bahu, Siku, Mata kaki ).
2.6.5                          Pengobatan Konservatif
Anti agregasi trombosit seperti Aspirin, digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi trombosit sesudah ulserasi eteroma, sebagian penderi dan mereaka yang bereiko akan membentuk bekuan darah, akhir-akhir ini diberikan 10 gr Aspirin 1-2 x / hari ( Price, Wilson, 1995 ).
2.6.6                          Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memperbaiki peredaeran darah otak, penderita yang menjalani tindakan ini sering kali juga menderita beberapa penyakit seperti hypertensi, diabetes dan kardiovaskuler yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anastesi umum, sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik dan dapat dipertahankan (Price, Wilson, 1995).
  
BAB III
PEMBAHASAN 
3.1    Tinjauan Kasus
Asuhan keperawatan pada tn. B dengan Stroke Iskhemik penulis lakukan selama tiga hari, yaitu dari tanggal 11 sampai dengan 13 mei 2005 di Ruang Rawat Penyakit Saraf Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin banda Aceh.
Berdasarkan hasil pengkajain  ( lampiran 1 ) didapatkan data demografi  antara lain pasien bernama Tn. B berumur 50 tahun, Suku Aceh, Beragama Islam, bekerja sebagai Petani dan sekarang tinggal di desa Tungkop Darussalam.
Keluahn utama pasein adalah lemah, riwayat penyakit sekarang adalah pasien dibawa ke BPK Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin dengan keluhan anggota gerak sebelah kanan tidak bisa digerakkan. Pada saat pengakajian pada tanggal 11 mei 2005 pasien sudah dirawat selama dua hari, sehingga anggota geraknya sudah bisa digerakkan kembali.
Dari pola kebiasaan didapatkan pola makan pasien sebelum sakit, makan 3 x / hari dengan porsi satu piring dengan lauk-pauk : telur, tempe, sayur-sayuran, dan pasien tidak suka makan ikan. Selama sakit pasien tidak ada nafsu makan, porsi yang disediakan tidak habis, hanya mampu menghabiskan ½ piring yang disediakan. Kemudian pada eliminasi BAB sebelum sakit klien BAB 1 x / hari dan selama sakit pasien sudah tiga hari tidak BAB. Pola aktivitas pasien sebelum sakit  aktivitasnya sehari-hari membersihkan lingkungan rumahnya dan memasak didapur dan selama sakit pasien tidak dapat beraktivitas seperti biasanya karena badannya terasa lemah.
Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan keadaan umum lemah, tekanan darah 150 / 80 mmHg, nadi 74 x / menit, pernafasan 20 x / menit, dan sushu tubuh 37,2 o c. hasil pemeriksaan khusus  neurology di dapatkan  GCS : E4 M6 V5 , kekutan otot lengan kanan adalah dapat melawan tahanan, tapi kekuatannya berkurang ( 4 ). Tes fungsi nervus cranial tidak didapatkan kelainan.
Sewaktu anamnese, pasien mengatakan dirinya ingin cepat pulang karena selama sakit banyak membebani keluarga, pasien mengatakan takut kalau dirinya tidak mampu beraktivitas seperti semula. Paseien mampu berkomunikasi dengan baik dan sangat kooperatif dengan perawat. Pemeriksaan penunjang pada Tn. B pada tanggal 13 mei 2005 adalah Hb : 12,5 gr / dl leukosit 9400 / ul, albumin 4,7 gr / dl, globulin 2,8 gr / dl, protein total 8,0 gr / dl
Dari hasil analisa data dari pengkajian keperawatan maka diagnosa  yang dapat ditegakkan  pada Tn. B adalah ketidak mampuan memenuhi ADL berhubungan dengan kelemahan otot, gangguan pemenuahn nutrisi berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat dan gangguan pola eliminasi BAB berhubungan dengan imobilitas.
Untuk mengatasi masalah, maka ditetapkan rencana keperawatan sesuai dengan masalah. Rencana keperawatan untuk diagnosa ketidakmampuan memenuhi ADL bertujuan kemampuan ADL pasien terpenuhi dengan criteria hasil, pasien mengatakan badannya terasa kuat, pasien mampu kekamar mandi, ADL tidak dibantu oleh keluarga dan perawat. Rencana tindakan adalah kaji tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas, latih pasien dalam melakukan pergerakan, beri pujian bila pasien  dapat melakukan aktivitas dengan benar, kolaborasi dengan tim ahli fisioterapi untuk latihan otot.
Rencana keperawatan untuk gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bertujuan gangguan nutrisi tidak terjadi dengan criteria hasil makanan yang disediakan dapat dimakan dengan habis, nafsu makan meningkat, perut tidak mual. Rencana tindakan antara lain beri makan porsi kecil tapi sering, beri makanan yang bervariasi, beri makanan yang disukai pasien, kolaborasi dengan tim gizi untuk menentukan diit.
Rencana keperawatan diagnosa pola eliminasi BAB bertujuan BAB kembal ilancar dengan criteria hasil, pasien dapat BAB 1 x / hari, perut tidak kembung. Rencana tindakan dianjurkan pasien untuk dimobilisasi, berikan makanan yang lembek, anjurkan minum yang banyak, kolaborasi dengan tim gizi tentang pemberian diit tinggi serat.
Implentasi diagnosa kedua antara lain memberi makanan dalam porsi kecil tapi sering, memberi makanan yang tidak terjadi kejenuahan pada pasien, memberi nasi lauk-pauk serta sayur-sayuran, telur, tempe dantu. Sedangkan implementasi diagnosa  yang ketiga adalah menganjurkan pasien untuk merobah posisi tiap 2 jam, memberikan makanan yan lembek, menganjurkan minum yang banyak. Mengkolaborasi dengan tim gizi tentang pemberian diit tinggi serat.
Setelah dilakukan implementasi untuk masing-masing diagnosa dapat dievaluasi hasilnya bahwa diagnosa pertama tidak teratasi dan tindakan dilanjutkan, diagnosa kedua teratasi, tindakan dihentikan sedangkan diagnosa ketiga teratasi, tindakan dihentikan.
3.2    Pembahasan
         3.2.1    Pengakajian
Pasien bernama Tn. B, berumur 50 tahun, suku Aceh, bergama Islam, bekerja sebagai petani, pendidikan tamatan MIN, dan alamat tinggal di desa Tinggkop Darussalam, diruat di Ruang Rawat Penyakit Saraf Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dengan diagnosa medis Stroke Iskhemik. Stroke iskhemik adalah merupakan suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Kejadian serangna penyakit ini bervariasi antar tempat, waktu dan keadaan penduduk (Buston, 1995).
Kemudian keluahan Tn. B pada saat pengkajian tanggal 11 mei 2005 adalah lemah , dengan riwayat penyakit sekarang yaitu pasien dibawa kerumah sakit dengan keluhan anggota gerak sebelah kanan tidak bisa digerakkan, namun pada saat pengkajian pada tanggal 11 mei 2005 pasien tidak mengalami kelumpuhan lagi karena sudah tiga hari mendapat perawatan, pasien hanya mengeluh lemah. Menurut teoritis pada pasien stroke mengalami kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai pada salah satu sisi tubuh.
Dari pola kebiasaan, pola makan pasien selama sakit mengalami penurunan nafsu makan, porsi yang disediakan tidak habis. Menurut pusdiknakes 1995 keluhan yang berhubungan dengan percernaan adalah nafsu makan berkurang seperti yang dialami oleh Tn. B. Pola eliminasi pasien selama sakit adalah sejak tiga hari yang lalu pasien tidak keluar BAB. Sedangkan menurut teoritis gejala yang timbul berhubungan dengan pola eliminasi adalah adanya perubahan pola eliminasi yang disebabkan oleh kelemahan peristaltik usus. (Pusdiknakes, 1995). Sedangkan pola aktivitas pasien selama sakit tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa karena kelemahan otot, menurut teoritis terjadinya gangguan aktivitas akibat dari kelemahan atau kelumpuhan lengan dan tungkai pada salah satu sisi tubuh (Medicastore 12 Maret 2004).
Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 150 / 80 mmHg, nadi 74 x / menit, temperature 37,2 oc, pernafasan 20 x / menit. Tekanan darah sistolik meningkat karena terjadinya penurunan tekanan vaskuler sehingga menyebabkan darah arteriola akan berkontraksi  (Pahrial et al, 1994).
Pemeriksaan fisik umum pada Tn. B dilakukan dengan pendekatan heat to toe, dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya distensi obdomen. Menurut teoritis bedrest dan imobilitas mempengaruhi tiga fungsi system gastroistestinal (ingesti, digesti, dan eliminasi) yang menyebabkan konstipasi (Robert Priharjo, 1996).
Pada pemeriksaan Glaslow Coam Scale (GCS) tidak didapatkan penurunan kesadaran dan tidak terganggu fungsi nervus cranial pada Tn. B, karena pasien sudah dirawat selama tiga hari. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada Tn. B adalah Hb 12,5 gr / dl, leukosit 9400 / ui, albumin 4,7 gr / dl, globulin 2,8 gr / dl, protein total 8,0 gr / dl. (Lumbantobing S.M, 1998).
3.2.2    Diagnosa Keperawatan
Menurut Pusdiknakes ( 1995 ), diagnosa utama yang sering muncul pada pasien stroke iskhemik adalah gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan adanya sumbatan pembuluh darah otak, ganggua aktivitas gerak berhubungan dengan kelemahan fisik, gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan neuromuscular, ketidak mampuan merawata diri berhubungan dengan adanya kelemahan otot, gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan perasaan negatif terhadap keadaan yang diahadapi dan gangguan-gangguan pola eliminasi BAB berhubungan dengan imobilitas.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang muncul  pada Tn. B adalah ketidakmampuan memenuhi ADL berhubungan dengan kelemahan fisik, gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat. Gangguan pola eliminasi BAB berhubungan dengan imobulitas. Tidak semua diagnosa muncul karena pasien sudah dirawat selama tiga hari sehingga banyak masalah sudah teratasi. Hal ini juga bisa disebabkan oleh keterbatasan waktu dan alat sehingga banyak masalah yang tidak terdeteksi.
3.2.3    Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan untuk masalah ketidsakmampuan memenihi ADL tujuan untuk kemampuan ADL pasien terpenuhi dengan criteria hasil pasien mengatakan badan terasa kuat, pasien mampu kekamar mandi, ADL tidak dibantu oleh keluarga dan perawat. Rencana tindakan antara lain kaji tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas dengan rasional untuk mobilitas fisik, beri pujian bila pasien dapat melakukan aktivitas, kolaborasi dengan ahli fisioterapi dengan rasional memperoleh fisioterapi yang tepat ( Pusdiknakes, 1996 ).
Rencana keperawatan diagnosa kedua tujuan pemenuhan nutrisi terpenuhi dengan criteria hasil pasien mengatakan nafsu makan meningkat, porsi yang disediakan dapat dihabiskan. Rencana tindakan antara lain beri makan dalam porsi kecil tapi sering dengan rasional untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, beri makanan yang bervariasi dengan rasional agar pasien tidak bosan dengan makanan yang dimakan. Beri makanan yang disukai pasien dengan rasional agar pasien mau makan lebih banyak, kolaborasi dengan tim gizi dengan rasional untuk menentukan gizi yang dibutuhkan pasien ( Pusdiknakes, 1996 ).
Rencana keperawatan diagnosa ketiga tujuan BAB kembali lacar dengan criteria hasil pasien dapat BAB 1 x / hari, perut tidak kembung. Rencana tindakan antara lain anjurkan pasien untuk mobilitas dengan rasionalisasi untuk meransang peristaltik usus sehingga melancarkan BAB, beri makanan yang lembek dengan rasional untuk memudahkan pencernaan di usus, anjurkan pada pasien untuk minum banyak dengan rasional untuk mengencerkan BAB, kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian diit tinggi serat dengan rasional makanan tinggi serat akan memperlancar BAB ( Pusdiknakes, 1996 )
3.2.4    Implementasi
Pelaksanaan rencana keperawatan untuk mengatasi kelemahan otot adalah mengkaji tingkat kemampuan pasien dalam beriaktivitas, melatih pasien dalam melakukan pergerakan ( ROM ), memberi pujian bila pasien dapat melakukan aktivitas dengan benar, mengkolaborasi dengan tim fisioterapi untuk latihan otot.
Pelaksanaan rencana keperawatan untuk mencegah terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering, memberikan makanan yang tidak terjadi kejenuhan pada pasien, memberikan makanan yang disukai pasien, mengkolaborasi dengan tim gizi untuk menentukan kebutuhan gizi yang dibutuhkan tubuh pasien.
Pelaksaan rencana keperawatan untuk diagnosa ganggua pola eliminasi antara lain menganjurkan pasien untuk mobilitas, memberikan makanan yang lembek, mengkolaborasi ahli gizi tentang pemberian diit tinggi serat. Sedangkan pada evaluasi hasil implementasi diagnosa ketiga adalah masalah belum teratasi ditandai dengan pasien mengatakan BAB belum keluar, perut masih kembung.
3.2.5        Evaluasi
Sesudah dilakukan implementasi untuk masing-masing diagnosa dapat dievaluasi hasil bahwa diagnosa pertama tidak teratasi ditandai dengan pasien masih mengeluh badan masih lemah, ADL dibantu oleh keluarga dan perawat, oleh karena itu renpra pada tanggal 11 mei 2005 perlu dilanjutkan kembali pada hari berikutnya, , pada evaluasi diagnosas kedua juga masalah pasien belum teratasi ditandai dengan pasein masih mengeluh mual, pasien hanya menghabiskan makanan ½ piring dan pasien tidak ada nafsu makan, untuk mengatasi masalah ini maka rencana pda tanggal 11 mei 2005 perlu dilanjutkan

BAB IV
PENUTUP 
4.1          Kesimpulan
4.1.1  Dapat melakukan pengkajian, menentukan diagnosa, merumuskan  perencanaan, mengimplementasikan tindakan, dan meng evaluasi langsung pada Tn.I
4.1.2  Permasalahan-permasalahan yang sering dijumpai pada pasien stroke iskhemik adalah perubahan perfusi jaringan otak, ganggua aktivitas dan mobilitas, gangguan komunikasi verbal, perubahan pola eliminasi, gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan gangguan konsep diri ( cemas ).
4.1.3   Setelah melaksanakan tindakan keperawatan terhadap permasaalahan yang dilalami Tn. I dimana didapatkan hasil bahwa beberapa permasaalahan dapat teratasi setelah dilakukan tindakan perawatan. Namun ada juga permasaalahan membutuhkan perawatan yang lama dan berkelanjutan.
4.2          Rekomendasi
4.2.1  Perawat Ruang Rawat Penyakit Saraf harus jeli dalam menentukan diagnosa keperawatan sehingga semua masalah dapat diidentifikasi dan juga harus mampu menerapkan komunikasi teurapetik serta sesuai dengan prosedur dan tanpa mengabaikan etika keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA 
Bustan.  1997. Evidemiologi Penyakit Tidak Menular  : Jakarta : Rineka Cipta.
Huddak  dan  Gallo.  1996.  Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik.  Ediai ke 6.  volume II. Jakarta
Pahria, Susilaningsih, Siahaan, Helwiyah.  1996.  Asuahan Keperawatan Pada Pasien Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : EGC
Price  and  Willson.  1991. Patofisiologi, Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit.  Edisi 2 Bagian 2. Jakarta
Pusdiknakes.  1995.  Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persarafan.  Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar